KONSEP
DAN ANALISA FILSAFAT DAN ETIKA
A.
PENGERTIAN
FILSAFAT DAN ETIKA
1. FILSAFAT
Kata filsafat berasaldari bahasa Yunani
“philosophia” dari kata “philos” artinya
cinta dan “Sophia” artinya pengetahuan
yang bijaksana.
Filsafat
mempunyai dua pengertian:
·
Pertama
filsafat sebagai produk:
mengandung arti filsafat
sebagai jenis ilmu pengetahuan, konsep-konsep,
teori, sistem aliran
yang nerupakan hasil proses berfilsafat.
·
Ke
dua filsafat sebagai suatu proses,
dalam hal ini filsafat diartikan sebagai
bentuk aktivitas berfisafat sebagai proses
pemecahan masalah dengan
menggunakan cara dan metode tertentu.
Sebagai
sebuah ilmu Filsafat adalah
ilmu pengetahuan dengan objek material
adalah: yang “Ada” mencakup manusia,
alam,Tuhan (anthropos, cosmos,
Theos)beserta problematika didalamnya, sedangkan
objek formal filsafat adalah menelaah objek
materialnya secara mendalam
sampai ditemukan hakekat/intisari
permasalahan. Tidak semua kegiatan
berpikir itu adalah suatu aktivitas berfilsafat.
Kegiatan berpikir secara
kefilsafatan (dalamarti sebagai) ilmu memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:Kritis-Radikal-Konseptual-Koheren-Rasional-Spekulatif-Sistematis-Komprehensif-Bebas-Universal
Namun mengenai memahami filsafat tidak hanya
dapat dijelaskan hanyadengan definisi, melainakn hanya dapat dipelajari dan
dialami dengan cara berfilsafat itu sendiri. Dengan kata lain cara
terpenting untuk memahamifilsafat yaitu adalah dengan berfilsafat.
Berfilsafat adalah berpikir. dalam hal ini bukan berarti
sesuatuyang dikatakan berpikir adalah
berfilsafat, karena berfilsafat itu berpikir dengan ciri-ciri tertentu.
Ada beberapa ciri berpikir secara kefilsafatan,yaitu
a. Berpikir secara kefilsafatan
dicirikan secara radikal.Berpikir
secara radikal adalah berpikir sampai ke akar-akarnya. Berpikir sampai ke hakekat. Esensi,
atau sampai ke substansi yang
dipikirkan
b.
Berpikir secara kefilsafatan
dicirikan secara universal (umum). Berpikir secara universal adalah berpikir
tentanghal-hal serta proses-proses yang bersifat umum.
c.
Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara konseptual.Yang dimaksud dengan konsep
disini adalah hasil generalisasi dan abstraksi dan pengalaman
tentang hal-halserta proses-proses individu.
d.
Berpikir secara kefilsafatan
dicirikan secara koheren dankonsisten. Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir
logis. Konsisten artinya tidak mengandungkontradiksi
e.
Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara
sistematik. Yang artinya kebulatan dan
sejumlah unsur
yang saling berhubungan menurut tata pengaturan untuk mencapaisesuatu maksud atau menunaikan, sesuatu peranan
tertentu.
f.
Berpikir secara kefilsafatan
dicirikan secara komprehensif.Artinya mencakup secara menyeluruh.
g.
Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara bebas. Filsafat boleh dikatakan merupakan suatu hasil dari pemikiran
yang bebas. Bebas dari prasangka-prasangka social, historis,kultural, atau
religious.
h. Berpikir secara kefilsafatan dicirikan
dengan pemikiranyang bertanggung jawab. Bertanggung jawaban yang palingutama adalah terhadap hati nuraninya
2. ETIKA (FILSAFAT
MORAL)
Etika berasal dari bahasa Yunani ethos,
yang berarti tempat tinggal yang biasa, padang rumpt, kandang; kebiasaan, adat;
watak; perasaan, sikap, cara berpikir. dalam bentuk jamak ta etha artinya adat
kebiasaan. Dalam arti terakhir inilah terbentuknya istilah etika yang oleh
Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Etika berarti: ilmu
tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Ada juga
kata moral dari bahasa Latin yang artinya sama dengan etika.
Salah satu cabang filsafat yaitu
filsafat moral. Tampaknya filsafat moral tidak begitu lazim terdengar di
telinga dikarenakan dalam kehidupan sehari-hari jarang sekali yang menyebut
filsafat moral tetapi etika. Benar, nama lain dari filsafat moral
adalah etika. Jadi tidak usah dibingungkan dengan apa perbedaan filsafat
moral dengan etika karena perbedaannya hanya terletak pada tulisannya saja.
Etika sebagai bagian dari filsafat, sebagai ilmu etika mencarikebenaran
dan sebagai filsafat yang mencari keterangan benar sedalam-dalamnya. ebagai tugas tertentu bagi etika, mencari
ukuran baik-buruk bagi tingkah-laku manusia
Ø Jenis Jenis Etika dalam Filsafat
K. Bertens menggolongkan
etika menjadi etika deskriptif, etikanormative dan mataetika. Diantara lain :
§ Etika deskriptif. !tika ini melukiskan tingkah laku moral dalamarti luas, misalnya adat kebiasaan, anggapan-anggapan
tentang baik dan buruk, tindakan tindakan yang diperbolehkan atautidak diperbolehkan. !tika ini tidak memberikan penilaianterhadap perilaku tertentu,
melainkan hanya melukiskan saja
§ Etika normative. Dalam etika ini para ahli
etika memberikan penilaian
moral terhadap suatu perilaku tertentu. Penilaian ini berdasarkan pada
norma-norma. Dengan kata lain, etika inimenentukan
baik atau buruknya suaru perilaku.
§ Mataetika, hal ini berbicara sesuatu yang lebih
tinggi daripada perilaku
etis itu sendiri, yaitu soal “bahasa etis”, bahasa danlogika yang dipergunakan di bidang moral.
Manfaat etika atau mempelajari etika di situ yang paling mendasar adalah kita
tahu bagaimana dan seperti apa perbuatan baik dan buruk itu, sehingga dari hal tersebut, kita tahu dan dapat
memilihmana
yang harus kita lakukan dan mana yang tidak harus kitalakukan. Kemudian yang terakhir yaitu hubungannya
etika dengan filsafat. Bahwa filsafat adalah bagian dari ilmu pengetahuan yang berfungsi
sebagai interpretasi tentang hidup manusia. Etikamerupakan bagian dari filsafat, yaitu filsafat
moral. Filsafat moral adalah cabang dari filsafat tentang tindakan manusia
B.
HUBUNGAN ETIKA DAN AGAMA
Bagaimana Hubungan Etika dan Agama
Seperti telah dijelaskan sebelumnya,
bahwa etika dan agama adalah dua hal yang tidak harus dipertentangkan. Antara
etika dan agama adalah dua hal yang saling membutuhkan, atau dalam bahasa
Sudiarja “agama dan etika saling melengkapi satu sama lain”. Agama membutuhkan
etika untuk secara kritis melihat tindakan moral yang mungkin tidak rasional.
Sedangkan etika sendiri membutuhkan agama agar manusia tidak mengabaikan
kepekaan rasa dalam dirinya. Etika menjadi berbahaya ketika memutlakan racio,
karena racio bisa merelatifkan segala tindakan moral yang dilihatnya termasuk
tindakan moral yang ada pada agama tertentu.
Kita dapat mengatakan bahwa etika,
secara filosofis menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan agama-agama,
khusunya bagi negara-negara yang majemuk seperti Indonesia. Etika secara
rasional membantu kita mampu untuk memahami dan secara kritis melihat tindakan
moral agama tertentu. Kita tidak mungkin menggunakan doktrin agama kita untuk
melihat dan menganalisis agama tertentu. Sebuah pertanyaan menarik akan muncul,
jika sekiranya agama hanya satu apakah dengan demikian etika tidak lagi
dibutuhkan? Karena agama tersebut akan menjadi moral yang mutlak dalam
kehidupan manusia. Kalau kita tetap memahami bahwa etika hadir untuk secara
rasional membantu manusia memahami tindakan moral yang dibuatnya, maka tentu
etika tetap menjadi penting dalam kehidupan manusia. Karena etika tidak akan
terikat pada apakah agama ada atau tidak etika akan tetap ada dalam hidup
manusia selama manusia masih menggunakan akal sehatnya dan racionya dalam
kehidupannya. Sekalipun manusia menjadi ateis, etika tetaplah dibutuhkan oleh
mereka yang tidak mengenal agama.
Hubungan
Agama dan etika dalam konteks etika Global
Sebuah pertanyaan menarik bagaimana etika Global melihat
hubungan Agama dan Etika. Jika melihat konsep yang disampaikan oleh Hans Kung
dalam Etic Global. Maka pertama–tama harus ada kesadaran setiap agama, bahwa
dalam perbedaan doktrin kita tetap mempunyai persamaan-persamaan etis yang bisa
mempersatukan. Untuk mempersatukan persamaan ini, maka etika mempunyai peran
sangat penting didalamnya. Bahkan bisa dikatakan bahwa ketika agama-agama
berbeda dalam doktrin, maka etika telah menjadi pemersatu. Perbedaan keyakinan
bisa terjadi pada setiap agama, tetapi rasio melalui etika telah menjadi sarana
dialog. Tidak dapat disangkal bahwa etika telah mempunyai peran sangat penting
dalam mencoba untuk mendialogkan agama-agama.
Karena itu peran etika global dalam konteks agama-agama,
sangatlah dibutuhkan. Pun kita menyadari bahwa etika tidak akan dapat menganti
peran dari agama. Etika global seperti yang disampaikan oleh Hans Kung bahwa
dia tidak akan pernah menggantikan Taurat, Khotbah di Bukit, Alquran,
Bhagavadgita, Wacana dari Buddha atau para ungkapan Konfusius. Etika global
hanya mencoba mencari titik temu diantara agama-agamadalam nilai-nilai tertentu
dengan menggunakan pendekatan etika. Dengan demikian keterhubungan etika dan
agama dalam etika global sangat nampak dalam pencarian nilai bersama dengan
menggunakan nilai yang logis dan dapat diterima oleh semua manusia.
Komentar
Posting Komentar